Senin, 07 Maret 2011

KELEMAHAN MANUSIA


Catatan dari Majlis Taklim Masjid Agung Sunda Kelapa, Minggu ketiga 20 Juni 2010.





KELEMAHAN  MANUSIA
 Dr. Hj. Isnawati Rais, M.A.

Manusia adalah makhluk yang selalu merindukan kesempurnaan. Oleh karena itu dengan segala potensi yang dimilikinya, dia berusaha maju dan berkembang untuk mencapai keseimbangannya baik secara rohani maupun jasmani. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang dibekali dengan berbagai potensi fitrah yang yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Potensi istimewa ini dimaksudkan agar manusia dapat mengemban dua tugas utama, yaitu sebagai khalifah Allah di muka bumi dan sebagi abdi (hamba) Allah untuk beribadah kepada-Nya.

Al-Quran banyak membicarakan tentang manusia ditinjau dari sifat-sifat dan potensinya. Dalam hal ini, ditemukan sekian ayat yang memuji dan memuliakan manusia, seperti pernyataan tentang terciptanya manusia dalam bentuk dan keadaan yang sebaik-baiknya. Dan penegasan tentang dimuliakannya manusia dibandingkan dengan makhluk-makhluk Allah yang lain

۞ وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلۡنَـٰهُمۡ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنَـٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَفَضَّلۡنَـٰهُمۡ عَلَىٰ ڪَثِيرٍ۬ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيلاً۬ (٧٠)

Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS Al-Isra' [17]: 70)

Tetapi disamping itu sering pula manusia mendapat celaan dari Allah SWT karena kelemahan yang dimilikinya. Manusia tercipta sebagai makhluk yang lemah, terutama lemah iman sehingga ia tergoda oleh orang-orang yang mengikuti nafsunya untuk berpaling sejauh-jauhnya dari kebenaran. Hal tersebut dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya di Surat An-Nisa ayat 28 & 29.

يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمۡ‌ۚ وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَـٰنُ ضَعِيفً۬ا (٢٨) يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡڪُلُوٓاْ أَمۡوَٲلَكُم بَيۡنَڪُم بِٱلۡبَـٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَـٰرَةً عَن تَرَاضٍ۬ مِّنكُمۡ‌ۚ وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمً۬ا (٢٩)

Artinya:
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah. (28)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (29) ( QS An-Nisa [4])

Dua dari tiga tahapan kehidupan manusia adalah tahapan bahwa manusia bersifat lemah, yaitu; pada masa kanak-kanak dan masa tua. Oleh karena itu, ketika dia berada daam tahapan kehidupan yang kuat (masa muda) dia harus memaksimalkan kekuatannya untuk mengaktualisasikan seluruh potensinya sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah

۞ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعۡفٍ۬ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ ضَعۡفٍ۬ قُوَّةً۬ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ۬ ضَعۡفً۬ا وَشَيۡبَةً۬‌ۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ‌ۖ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡقَدِيرُ (٥٤)
Artinya: Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan [kamu] sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan [kamu] sesudah kuat itu lemah [kembali] dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS Ar-Ruum [30]: 54)

Kekuatan yang dimilikinya harus dimaksimalkan untuk melaksanakan segala amanah (tugas-tugas keagamaan), sehingga ia tidak termasuk dalam kategori manusia yang amat zalim dan bodoh.

إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَہَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ ظَلُومً۬ا جَهُولاً۬ (٧٢)

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS Al-Ahzaab [33]: 72)

Dia (manusia) pun harus selalu meningkatkan keimanannya, rasa syukur dan sabarnya, sehingga tidak menjadi manusia yang berkeluh kesah lagi kikir. Semua itu dipaparkan secara detil oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an di Surat Al-Ma'aarij [70] ayat 19 sampai dengan 35.

۞ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩) إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعً۬ا (٢٠) وَإِذَا مَسَّهُ ٱلۡخَيۡرُ مَنُوعًا (٢١) إِلَّا ٱلۡمُصَلِّينَ (٢٢) ٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَاتِہِمۡ دَآٮِٕمُونَ (٢٣) وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمۡوَٲلِهِمۡ حَقٌّ۬ مَّعۡلُومٌ۬ (٢٤) لِّلسَّآٮِٕلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ (٢٥) وَٱلَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ (٢٦) وَٱلَّذِينَ هُم مِّنۡ عَذَابِ رَبِّہِم مُّشۡفِقُونَ (٢٧) إِنَّ عَذَابَ رَبِّہِمۡ غَيۡرُ مَأۡمُونٍ۬ (٢٨) وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَـٰفِظُونَ (٢٩) إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٲجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَـٰنُہُمۡ فَإِنَّہُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ (٣٠) فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٲلِكَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ (٣١) وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَـٰنَـٰتِہِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَٲعُونَ (٣٢) وَٱلَّذِينَ هُم بِشَہَـٰدَٲتِہِمۡ قَآٮِٕمُونَ (٣٣) وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَاتِہِمۡ يُحَافِظُونَ (٣٤) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ فِى جَنَّـٰتٍ۬ مُّكۡرَمُونَ (٣٥)

Artinya:
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (19)
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, (20)
dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, (21)
kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, (22)
yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, (23)
dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (24)
bagi orang [miskin] yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa [yang tidak mau meminta], (25)
dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, (26)
dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. (27)
Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman [dari kedatangannya]. (28)
Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, (29)
kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. (30)
Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (31)
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat [yang dipikulnya] dan janjinya. (32)
Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. (33)
Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. (34)
Mereka itu [kekal] di surga lagi dimuliakan. (35)

Ketika Al-Quran memaparkan kelebihan dan kelemahan manusia sekaligus, ini bukan berarti bahwa ayat-ayat Al-Quran bertentangan antara satu dengan lainnya. Hal tersebut menunjukkan beberapa kelemahan manusia yang harus dihindarinya disamping menunjukkan betapa manusia itu mempunyai potensi untuk menempati tempat tertinggi sehingga ia terpuji, atau berada di tempat terendah sehingga ia tercela. Salah satu kelemahan manusia telah dijabarkan oleh Al-Qur,an dalam Surat Al-Ma'aarij ayat 19 -21, adalah; sifat keluh kesah lagi kikir.

Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah dengan sifat keluh kesah dan kikir ketika mereka sedang ditimpa musibah dan cobaan. Tetapi jika mereka mendapatkan nikmat, maka kebanyakan dari mereka lupa akan siapa yang telah memberikan segala nikmat tersebut. Oleh karena itu hendaknya kita melakukan introspeksi terhadap diri kita masing-masing.
·        Apakah Firman Allah itu benar-benar terjadi pada diri kita?
·        Apakah kita sering berkeluh kesah?
·        Apakah kita kikir?

Kiat-kiat Melepaskan Diri dari Kelemahan
Jika kita menyimak surat Al-Ma'aarij tentunya kita akan mendapatkan solusi dari sub-judul di atas, yaitu;
1.      Senantiasa mendirikan shalat secara kontinue dan sempurna. (QS Al-Ma'aarij [70]: 22 & 23)
            Orang yang sealu mendirikan shalat memiiki hubungan dan ketergantungan vertikal yang sangat kuat       kepada Allah. Dia akan selalu memposisikan bahwa setiap kebaikan dan keburukan yang menimpanya   sebagai batu ujian keimanan.

كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةً۬‌ۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ (٣٥)
                Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan             sebagai cobaan [yang sebenar-benarnya]. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS Al-Anbiyaa [21]: 35)
           
            Berdasarkan Surat Al-Ma'aarij klausa Daa'imun (daim) pada ayat 23 menegaskan bahwa shalat yang akan             menetralisir manusia sebagai makhluk yang berkeluh kesah adalah shalat yang dilaksanakan secara        kontinue.
           
            Dalam bahasa Arab, kata Daama – Yaduumu – Dawaam – Mudaawamah berarti mengerjakan sesuatu    secara terus menerusdan tidak pernah berhenti. Jadi shalat daim adalah shalat yang dilaksanakan     selamanya dan tanpa henti.
            Bagaimana mungkin shalat dilaksanakan tanpa henti, padahal shalat adalah ibadah yang terkait dengan    waktu-waktu tertentu (ibadah muaqqatah)?
           
            Tentu saja pengertian ini tidak dinilai secara ritualitas saja karena tidak mungkin (bahkan haram hukumnya)            jika shalat dilakukan melebihi apa yang telah ditentukan Syara' sehingga membutuhkan waktu berjam-jam.      Shalat Daim maksudnya mengaplikasikan ruh dan niai-nilai ritual shalat ke dalam gerak hidup sehari-hari         sejak bangun pagi hingga beranjak tidur. Dengan demikian shalat ideal tidak hanya bagus dan benar          pelaksanaannya (syarat, rukun , waktu dan kekhusyu'an), meainkan juga bagus dan benar dalam penerapan            nilai-nilainya di luar waktu pelaksanaannya.

            Sayid Qutub menjelaskan bahwa shalat selain sebagai rukun islam dan tanda keimanan, juga merupakan             sarana untuk berhubungan dengan Allah dan memohon pasokan dari modal tersebut. Shalat merupakan bentuk ubudiyah yang tulus dan didalamnya tampak jelas perbedaan antara kedudukan Tuhan dan          kedudukan hambanya dalam suatu gambaran tertentu. Jadi shalat merupakan hubungan antara manusia           dengan Allah yang harus dikerjakan secara terus-menerus tanpa terputus.

            Rasulullah pernah bersabda; “Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah adalah amal yang          dikerjakan             secara tetap sekalipun sedikit”. (Hadis ini diriwayatkan oleh enam perawi hadis         melalui hadis Aisyah r.a)

            Mengapa shalat menjadi salah satu kiat agar terlepas dari bahaya keluh kesah dan kikir? Karena ketika    shalat sesungguhnya kita sedang melakukan komunikasi dua arah, yakni antara makhluk-Nya dengan Sang       Maha Khalik. Firman Allah menyebutkan :

ٱتۡلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ‌ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ‌ۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَڪۡبَرُ‌ۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ (٤٥)
                Artinya: bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab [Al Qur’an] dan dirikanlah shalat.           Sesungguhnya shalat                 itu mencegah dari [perbuatan-perbuatan] keji dan mungkar. Dan sesungguhnya    mengingat Allah [shalat] adalah lebih besar [keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain]. Dan Allah                mengetahui apa yang kamu kerjakan. (4QS A-Ankbut [29]: 45)

                Orang-orang yang mendirikan shakat maka dia akan sealu terjaga dari perbuatan-perbuatan keji dan        munkar. Dan apabila orang itu sudah melakukan shalat tetapi dia tetap melakukan perbuatan yang keji, patut    dipertanyakan bagaimana cara dia melakukan shalat. Sudahkah dia shalat dengan khusyuk?

2.      Menyisihkan Sebagian Rezeki. (QS Al-Ma'aarij [70]: 24 & 25)
            Dalam hal ini kata kuncinya adalah menyisihkan, bukan hanya memberikan melainkan selalu menyisihkan             sebagian rezeki yang diberikan oleh Allah SWT untuk orang-orang miskin dan yang membutuhkan. Jadi dengan memberikan infak kepada orang-orang yang membutuhkan berarti kita sudah berinvestasi untuk   kehidupan kita di akhirat kelak. Dan investasi ini tidak akan hilang dan pudar kecuali kita sendiri yang        menghilangkannya. Dengan apa kita menghilangkan investasi-investasi tersebut? Allah SWT berfirman            dalam QS Al-Baqarah:  


يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَـٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُ ۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ‌ۖ فَمَثَلُهُ ۥ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٌ۬ فَأَصَابَهُ ۥ وَابِلٌ۬ فَتَرَڪَهُ ۥ صَلۡدً۬ا‌ۖ لَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَىۡءٍ۬ مِّمَّا ڪَسَبُواْ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ (٢٦٤)

                Artinya: Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan [pahala] sedekahmu dengan menyebut-     nyebutnya dan menyakiti [perasaan si penerima], seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada        manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin                 yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih [tidak bertanah].           Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada   orang-orang yang kafir. (QS Al-Baqarah [2]: 264)

            Selama kita tidak menyebut-nyebut dan menyakiti orang yang diberi, maka investasi kita akan terus         bertambah dan berkembang dan tidak akan pernah bisa hilang.

            Rasulullah SAw bersabda: “Obatiah penyakit kalian dengan cara bersedekah.”
            Dalam riwayat lain Rasululah SAW juga bersabda, “Tidak akan pernah terbit matahari kecuali    disampingnya             terdapat dua malaikat yang memanggil dan panggilan tersebut didengar oleh seluruh            penghuni bumi kecuali manusia dan jin. Mereka berseru 'Wahai manusia, bersegeralah kamu            menuju Tuhanmu, sesungguhnya rezeki yang sedikit dan mencukupi lebih baik daripada yang   banyak dan membuat lupa'.”
           
3.     Percaya dan Yakin Akan Adanya Hari Pembalasan. (QS Al-Ma'aarij [70]: 26)
Mereka yakin bahwa kehidupan di dunia ini hanya sebentar dan mereka sadar kelak akan meghadapi kehidupan yang kekal di akhirat. Kehidupan di dunia hanya bersifat sementara da fana, sementara di akhirat akan ada hari pembalasan. Dengan keyakinan tersebut mereka akan selalu menyiapkan dirinya dengan berbuat kebajukan dan menjalankan perintah-perintah agama sebagai bekal untuk kehidupan akhiran yang abadi.

4.      Orang-orang Yang Merasa Takut Akan Siksa Allah SWT. (QS A-Ma'aarij [70]: 27 & 28)
Rasa takut akan azab Allah SWT akan mendorong mereka untuk berbadah dan menjalankan semua yang diperintahkan oleh agama.
Suatu ketika RasulullahSAW bersabda, “Ada tiga kesempatan manusia tidak akan lagi peduli terhadap orang lain”.
Aisyah bertanya, “Kapan itu, wahai Rasulullah?”
Rasullulah menjawab, “Pertama, ketika hisab; kedua, ketika pembagian kitab; ketiga, ketika di shirath”.
Ketika itu manusia hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang lain atau hal lain disekitarnya.

5.     Orang-orang Yang Memelihara Kemaluannya. (QS Al-Ma'aarij [70]: 29-31)
6.     Orang-orang Yang Memelihara Amanat. (QS Al-Ma'aarij [70]: 32)
7.     Orang-orang Yang Selalu Memberikan Kesaksian Yang Benar. (QS Al-Ma'aarij [70]: 33)
8.     Orang-orang Yang Memelihara Shalatnya. (QS Al-Ma'aarij [70]: 34)

Kesimpulan
Kelemahan manusia sebagai makhluk yang suka berkeluh-kesah dan kikir yang digambarkan dalam ayat di atas (QS Al-ma'aarij [70]: 19-35 sebetulnya juga merupakan kelebihan. Sebab melalui kelemahan tersebut manusia mampu melakukan introspeksi dan akan selalu berusaha menutupi kelemahannya. Oleh karena itu semua kelemahan itu tidak seharusnya menjadi penghalang bagi manusia dalam proses menuju kesempurnaan dan kematangan sebagai makhluk yang telah dipercaya memikul amanat khilafah di muka bumi.

Pesan substantif dari ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT tidak bermaksud “mempermalukan” manusia atas kelemahannya itu, tetapi dengan kedelapan indikator yang telah disebutkan diatas, hendaknya manusia dapat memahami bahwa itu semua merupakan sarana spiritual untuk menutupi dan memperbaiki kelemahannya itu.
Selain itu dengan ayat-ayat dalam surat Al-Ma'aarij ayat 19-35 itu, Allah SWT ingin mengajarkan kepada manusia tentang sifat sportif dan berlapang dada untuk menunjukkan kelemahan juga kekurangan. Manusia juga harus ikhlas menerima masukan dan kritikan dari orang lain sebagai bagian dari proses introspeksi dan perbaikan dirinya.

Dengan iman, sabar dan rasa syukur seorang manusia akan terhindar dari sifat keluh kesah dan kikir. Karena sebagaimana disabdakan oleh RasulullahSAW, “Sungguh luar biasa seoang mukmin itu, seluruh perkara dalam hidupnya bernilai positif. Apabila ia mendapat kemudahan, maka ia bersyukur. Itu positif (baik) baginya. Apabila ia ditimpa kesulitan, maka ia bersabar. Itupun positif (baik) baginya.”

Demikianlah, semoga bermanfaat.
Aamiin

 
 ~* Rienz *~


0 komentar: